Batam_Harian-RI.com
PENYAIR Sapardi Djoko Damono, pernah menulis buku dengan judul yang unik, “Bilang Begini, Maksudnya Begitu”. Ini adalah buku apresiasi puisi yang tidak berisi teori teori sastra yang ‘njelimet’ atau rumit, tetapi semacam ajakan untuk mengapresiasi puisi.
Caranya dengan pengenalan medium yang digunakan penyair, yaitu alat kebahasaan berupa: gagasan, metafora, ironi, citraan, perlambang, suasana, imajinasi, dan sebagainya. Cara penjelasannya pun sangat mudah dipahami karena dengan menampilkan contoh contoh puisi.
Seperti yang kita ketahui, puisi adalah mahkota bahasa. Puisi adalah hasil yang dicapai jika seseorang mampu bermain-main dengan bahasanya.
Sehingga, apa yang ditulis penyair tidak serta-merta bisa diartikan secara harfiah. Gerimis bukan berarti hujan, dan bunga belum tentu berarti kembang.
Kerap penyair bilang begini, tapi maksudnya begitu. Lalu bagaimana caranya bisa menikmati puisi dan menangkap pesan atau makna yang ingin disampaikan? Silakan baca buku ini.
Yang jelas keasyikan membaca buku ini adalah, imajinasi masih bebas merdeka mengembara, mereka-reka gambar apa yang cocok bagi kata-kata yang tengah dibaca.
Penyair Prancis, Charles Pierre Baudelaire pernah menulis, "Bahagialah pikiran yang terbang seperti layang-layang pagi, dan memahami bahasa bunga dan benda yang tak berbunyi."
Memangnya bunga punya bahasa ya? Ah, tak usah dipikir. Bilangnya memang begitu, tapi sebenarnya maksudnya begini. Pandai-pandailah mengartikannya.
Bagaimana menurut Anda? (Nursalim Turatea).
____
Dilengkapi sumber: Gramedia book



Tidak ada komentar:
Posting Komentar