Aceh Besar_Harian-RI.com
Menurut amatan Harian-RI.com di desa Neuheun kecamatan mesjid raya kabupaten Aceh besar, harga beras naik drastis 250 ribu hingga 300 ribu dengan berat 15 Kg per sak.
Naiknya harga beras secara drastis dengan kualitas biasa membuat masyarakat desa Neuheun, khususnya daerah perumahan Ujong Batee, menjadi kebingungan dan takut tidak mampu membeli beras, karena penghasilan masyarakat perumnas Ujong Batee desa Neuheun mayoritas golongan terbawah (miskin).
Dengan harga beras 250 ribu hingga 300 ribu per sak, dengan berat 15 Kg atau per bambunya 27 ribu hingga 30 ribu per bambu, yang biasanya 20 ribu dengan beras berkualitas biasa.
Beberapa masyarakat Neuheun dan perumahan Ujong Batee mengeluh atas kenaikan drastis harga beras berkualitas biasa yang dikonsumsi masyarakat.
Dengan naiknya harga beras tersebut membuat kalangan masyarakat desa Neuheun dan juga perumahan Ujong Batee menjadi ketakutan karena tidak bisa lagi untuk membeli beras. jangankan per sak, mungkin per bambu saja sulit untuk masyarakat setempat beli.
Salah satu masyarakat desa Neuheun yang namanya enggan dipublikasi, sebut saja Ilyas mengatakan kepada media Harian-RI.com (Jum'at 22 September 2023), kami selaku masyarakat biasa yang mempunyai pekerjaan serabutan sangat terkejut dengan harga beras sekarang, mungkin kami tidak sanggup lagi untuk membeli.
"Jangankan membeli dengan harga beras yang sekarang, harga beras yang masih stabil saja sulit untuk kami beli, terkadang kami hutang kepada pemilik kedai", ucap Ilyas.
Rosmawati salah satu ibu rumah tangga daerah perumahan Ujong Batee juga mengatakan hal yang sama, "mumang sudah kepala kami dengan harga beras yang melambung tinggi, yang biasanya kami beli dengan harga 19 ribu hingga 20 ribu, kini mencapai 27 ribu hingga 30 ribu, dari mana kami ada uang untuk membeli beras, sementara suami kami pekerjaannya tidak tetap kadang ada kadang tidak, bagaimana kami bisa hidup," tutur Rosmawati.
Coba bayangkan, dengan ekonomi masyarakat yang rata rata golongan rendah di perumnas Ujong Batee ini, kalau harga beras terus melambung, mungkin banyak warga perumnas Ujong Batee yang tidak lagi mengkonsumsi beras alias kami lapar.
"Seharusnya pemerintah berfikir dan harus bisa mencari solusi untuk menstabilkan kembali harga beras", lanjut Rosmawati.
Sementara Linawati, yang juga salah satu warga perumnas Ujong Batee desa Neuheun menyampaikan, dengan harga beras yang melambung tinggi dan dengan ekonomi kami yang sulit, kami tidak mampu untuk membeli beras, jangankan per sak, mungkin per bambu saja kami tidak dapat lagi untuk membelinya, apa yang harus kami lakukan dari masyarakat ekonomi terbawah", keluh Lina.
Masih salah satu warga perumnas Ujong Batee, Alin yang biasa disapa Mak Rino dengan nada kesal menyampaikan kepada pemerintah Aceh melalui dinas terkait dan pemerintah Pemkab Aceh besar melalui dinas terkait, baik dinas pertanian provinsi/kabupaten, dinas perdagangan provinsi/kabupaten dan dinas pengairan provinsi/kabupaten, juga kepada pemerintah Aceh/Kabupaten.
"Harus segera bertindak untuk memikirkan kami masyarakat yang golongan ekonomi terbawah, jangan cuma dinas terkait maupun pemerintah provinsi/kabupaten berdiam diri, kami disini manusia selaku masyarakat yang ekonominya sulit, bagaimana kami bisa bertahan hidup kalau semua harga sembako khususnya harga beras melambung tinggi, gas elpiji yang 3 kg saja sudah sulit kami beli, harga gas yang 3 kg, dari 35 ribu hingga 40 ribu, kalau langka mencapai 40 ribu, dan sekarang harga beras yang melambung tinggi mencapai 27 ribu hingga 30 ribu per bambu dengan harga per sak nya 270 ribu sampai 300 ribu per sak", ucap alin yang biasa disapa Mak Rino.
Beli gas saja yang sebulan sekali habis terkadang kami tidak mampu dan harus memasak menggunakan kayu bakar, bagaimana dengan beras yang setiap hari harus kami konsumsi, ini yang harus di fikirkan pemerintah, baik pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten maupun dinas terkait, kami disini semuanya manusia, bukan hewan dan disini kebanyakan 80 persen masyarakatnya golongan ekonomi terbawah, karena kalau harga beras belum juga bisa di stabilkan, yang kami takutkan banyak masyarakat disini yang kelaparan, jangankan untuk beli beras, untuk jajan anak sekolah saja disini kami sulit, maka kami berharap pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dinas terkait dan pemerintah desa harus memikirkan masyarakat nya.
"Juga kami berharap jika ada bantuan dari pemerintah pusat atau pemerintah provinsi lakukanlah secara adil, jangan itu itu saja orangnya yang dapat bantuan, banyak masyarakat disini golongan terbawah yang tidak dapat bantuan. dimana letak keadilan, apalagi dengan harga beras yang melambung tinggi, jika tidak mampu menjadi seorang pemimpin, baik di pemerintahan maupun di desa jangan jadi pemimpin, mundur saja, karena menjadi seorang pemimpin itu harus berlaku adil terhadap masyarakatnya, jangan nanti kami lapar karena tidak bisa lagi untuk membeli beras yang kini harganya melambung tinggi", ketus Mak Rino.
(HR-RI_R01)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar