Oleh: Cut Intan Arifah (Pengurus DPD KNPI Aceh).
Harian-RI.com
Setiap kali saya berulang tahun, secara otomatis selalu mengingatkan saya pada momentum Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 yang diperingati setiap 23 Juli, juga bertepatan dengan HUT Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) ke-53, ini menjadi refleksi penting bagi orang dewasa untuk mengawasi anak dari ancaman kekerasan digital, paham hak, perlindungan, dan kesejahteraan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, salah satunya adalah Generasi Stroberi.
Istilah "Generasi Stroberi" _(Strawberry Generation)_ belakangan ini populer diperbincangan publik, khususnya saat membahas generasi muda (Generasi Z dan Alpha). Diambil dari analogi buah stroberi yang tampak indah, menarik, dan eksotis di luar, namun mudah hancur ketika mengalami sedikit tekanan. Label ini untuk menggambarkan anak muda yang dianggap rapuh, gampang menyerah, dan terlalu emosional.
Namun, apakah stempel ini sepenuhnya adil? Atau kita sedang menghakimi suatu generasi yang zamannya sudah jauh berbeda dari masa lalu? Stigma ini biasanya timbul karena perbedaan pola pikir antargenerasi terdahulu, seperti Baby Boomers/Gen X, tumbuh di era yang menuntut daya tahan fisik dan mental yang keras karena keterbatasan ekonomi atau situasi sosial yang belum stabil. Bagi mereka, "bertahan hidup" berarti harus tahan banting tanpa banyak mengeluh.
Melihat generasi muda saat ini yang vokal menyuarakan pentingnya _mental health,_ _work life balance,_ atau berani _resign_ karena lingkungan kerja yang _toxic,_ sedangkan generasi terdahulu cenderung menganggapnya sebagai bentuk kelemahan. "Baru ditegur bos sedikit saja sudah mental _breakdance_," begitu kira-kira cibiran yang sering terdengar.
Jika kita menilai ketahanan generasi hari ini dengan standar masa lalu merupakan sebuah kekeliruan berpikir. Generasi Stroberi tidak hidup di ruang hampa, mereka tumbuh di era penuh konektivitas dan banjir informasi. Tekanan yang mereka hadapi tidak lagi berbentuk fisik, melainkan psikologis. Media sosial juga menjadi beban informasi yang sering membuat perbandingan sosial, itu terjadi secara _real time_ dan tanpa batas.
Anak-anak muda Gen Z juga berani mengungkapkan bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk _self-awareness_ yang dulu justru sering diabaikan dan dianggap tabu oleh generasi sebelumnya. Mereka juga berani menyuarakan perubahan, tidak segan mempertanyakan norma/aturan lama yang tidak lagi relevan atau merusak, seperti budaya kerja _hustle culture_ yang tidak sehat.
Jika kita bersedia mengesampingkan prasangka negatif, generasi yang diberi julukan stroberi ini terbukti memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Mereka memiliki empati sosial yang tinggi, lebih peka dengan isu-isu kemanusiaan, inklusivitas, dan lingkungan.
Ketimbang terus menyematkan label yang menyudutkan, sudah saatnya kita menjembatani jurang antargenerasi ini. Generasi muda memang perlu belajar daya tahan agar tidak mudah patah saat diterpa badai kehidupan. Namun, generasi yang lebih tua juga perlu belajar memahami bahwa definisi "tangguh" di era digital tidak lagi sama dengan era manual.
Generasi stroberi tidak butuh dihakimi atau dicap manja. Yang mereka butuhkan adalah ruang untuk berkembang, bimbingan yang disesuaikan, serta empati untuk tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya indah di luar, tetapi juga kuat di dalam.
Selamat Hari Anak Nasional, Selamat Hari Ulang Tahun KNPI, juga selamat ulang tahun untuk diri saya sendiri.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar