Labura,Aek Natas_Harian-RI.com - Milik person dengan milik umum mungkin berbeda pengertian, sekalipun bangunan itu bangunan pribadi, Publik tanda tanya dan sama siapa ditanya, untuk siapa, sumber dana dari mana.
Itulah di alam akal sehat publik, melihat bangunan tapal batas perdusun dugaan sementara, apa tapal batas atau tidak umum, rakyat tidak tahu,
Mudah mudahan rakyat salah, sumber menyebutkan sebanyak 16 unit bangunan dan biaya per unit sebanyak Rp 6 juta, jumlah Rp 96juta, sungguh kaya pemilik usaha ini, menyumbangkan kepada umum/rakyat, sangat bangga, sekalipun tidak ber makna penting bagi rakyat apa apa peran peran dan manfaat tapal batas tanpa plang itu, sampai habis jutaan rupiah
Namun ada beberapa warga warga janda miskin dan usia lanjut br rajaguk guk ,bp asuh tidak dapat melihatnya, Itu kesalnya ujar sumber meyebutkan pada awak media 8/9/23
Beriman dan bersekolah sangat penting, namun berpikir pun harus lebih penting, sekalipun sumber kebijakan itu salah dari pembiayaan yang dikeluarkan untuk biaya tapal batas dengan biaya bansos untuk usia lanjut si janda alm Napitupulu
Berpikir untuk kebijakan dalam dana desa harus bisa di musyawarahkan untuk mencari kesepakatan untuk membuat solusi merevisi kesepakatan yang sudah salah di aplikasi bp asuh untuk menyimpang kesimpangan
Menyembunyikan air dengan rama ramai dan membunuh kebenaran dengan ramai ramai itulah untuk berpikir
Nampak dalam gambar Bagaimana iman dan kinerja iman itu, ikut ikutan dan sungguh sangat banyak salah jalan Pungkas nya.
Hingga berita ini dikirimkan ke meja redaksi, seperti itu lah fakta dan kondisi dilapangan, melihat dan mendengar serta melapor
Rakyat dalam hak nya selaku warga desa setempat ketika berbincang di salah satu kedai kopi bermarga Tanjung, Hasibuan dan gultom
Alangkah baiknya revisi itu di pergunakan didepan Desa dan camat, media belum dapat dihubungi oknum kades E Tanjung tidak aktif
Mari kita ikuti revisi itu, sedekah dan amal kata iman dan agama, pusat tidak mengenal orang orang nya dalam aplikasi terkirim, selain disistimkan menjadi buta hati, kedudukan seseorang dalam warganya.
[Horas Situmorang]



Tidak ada komentar:
Posting Komentar