Banda Aceh_Harian-RI.com
Umat Islam harus semakin cerdas mencari, mengelola, dan memanfaatkan informasi di era modern saat ini agar tidak terjebak dalam arus informasi yang tidak bermanfaat.
Pesan tersebut disampaikan oleh akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Saifuddin A. Rasyid, saat memberikan ceramah pada peringatan Nuzulul Quran di Masjid Al-Hasanah Geuceu Komplek, Sabtu malam, 7 Maret 2026.
Saifuddin menekankan informasi yang diperoleh masyarakat seharusnya dimanfaatkan untuk hal-hal produktif serta tetap sejalan dengan aturan hukum, nilai moral, dan kepentingan spiritual umat Islam.
Ia menjelaskan inti dari peristiwa Nuzulul Quran adalah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril pada malam 17 Ramadhan tahun 610 M. Wahyu pertama tersebut adalah Surah Al-‘Alaq yang diawali dengan perintah “Iqra” atau membaca.
“Inti dari ayat pertama surat yang pertama kali diturunkan pada malam Nuzul Quran itu adalah perintah membaca, iqra’. Perintah ini memiliki dasar filosofis yang kuat, terutama terkait dengan kecerdasan dalam menggunakan informasi yang ada di sekitar kita,” ujarnya.
Menurut Saifuddin, perintah membaca dalam ayat tersebut memiliki makna filosofis yang luas, tidak hanya sebatas membaca teks, tetapi juga memahami, mengelola, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Ia mengatakan seseorang perlu terlebih dahulu mendefinisikan kebutuhan informasi sebelum melakukan pencarian agar informasi yang diperoleh benar-benar bermanfaat.
Dosen bidang literasi informasi pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry itu juga menyoroti perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence yang membuat akses terhadap informasi menjadi sangat mudah dan melimpah.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat seseorang tersesat dalam “rimba informasi” apabila tidak memiliki kemampuan literasi informasi yang baik.
Ia menyebutkan dalam situasi tertentu, kondisi saat ini bahkan telah berbalik. Bukan lagi manusia yang aktif mencari informasi, tetapi informasi yang justru datang menghampiri pengguna melalui berbagai sistem digital.
Saifuddin menjelaskan sistem kecerdasan buatan mampu mengenali kebutuhan pengguna melalui rekam jejak pencarian maupun konten yang sering diakses di internet dan media sosial. Karena itu, masyarakat diingatkan agar berhati-hati dalam berselancar di dunia digital.
Ia mencontohkan setiap aktivitas di internet terekam menjadi big data, termasuk kebiasaan pencarian informasi pada mesin pencari seperti Google. Data tersebut kemudian digunakan untuk memetakan kebutuhan informasi pengguna.
Karena itu, ia mengingatkan umat Islam agar tidak terjebak dalam arus informasi yang tidak bermanfaat serta mampu menjadi pengelola informasi yang baik. Ia juga mengajak masyarakat untuk mengajarkan literasi informasi kepada anak-anak dan generasi muda agar tidak menjadi korban informasi di era digital.
Saifuddin turut mengingatkan bahaya penyebaran hoaks, ghibah, namimah, dan fitnah yang sering terjadi di media sosial apabila seseorang tidak berhati-hati dalam menggunakan informasi.
Mengutip Al-Qur’an Surah Al-Hujurat Ayat 6, ia menegaskan pentingnya melakukan tabayun atau klarifikasi terhadap setiap informasi yang diterima sebelum digunakan atau disebarkan kembali. Menurutnya, setiap informasi yang diterima harus diperiksa dan dicermati terlebih dahulu agar tidak menimbulkan dampak buruk di masyarakat.
Ia juga mengingatkan seseorang tetap bertanggung jawab atas informasi yang disebarkan, meskipun hanya meneruskan pesan dari pihak lain. Kesalahan dalam mengelola informasi, kata dia, bahkan dapat mengurangi atau menghilangkan pahala puasa.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar