BANDA ACEH_Harian-RI.com
Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah strategis Menteri Pertanian (Mentan) yang mengalokasikan anggaran sebesar Rp 40 miliar untuk program pembibitan kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh. Kebijakan ini dinilai sebagai dukungan nyata pemerintah pusat dalam memperkuat sektor perkebunan sebagai pilar ekonomi Aceh.
Prof. Mirza Tabrani menyatakan bahwa kucuran dana yang signifikan ini merupakan momentum emas untuk melakukan revitalisasi perkebunan kopi Aceh yang selama ini telah menjadi ikon global.
"Kami sangat mengapresiasi komitmen Bapak Menteri Pertanian. Anggaran Rp 40 miliar ini adalah investasi strategis bagi masa depan 'emas hijau' Aceh. USK sebagai jantung hati rakyat Aceh siap memberikan dukungan penuh dari sisi kepakaran dan teknologi untuk memastikan program ini berdampak nyata," ujar Prof. Mirza.
Sinergi Riset dan Penguatan Ekonomi
Sebagai pakar di bidang bisnis dan manajemen, Prof. Mirza menekankan bahwa dana besar tersebut harus dikelola dengan pendekatan yang efisien dan berbasis data. USK, melalui Pusat Riset Kopi dan Kakao (PR KOKA) serta Fakultas Pertanian, telah menyiapkan tenaga ahli untuk mendukung standardisasi bibit unggul.
"Tantangan kita bukan hanya soal menanam, tapi bagaimana bibit ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. USK siap menerjunkan para ahli untuk memastikan bibit yang diterima petani adalah varietas unggul yang tahan terhadap perubahan iklim dan memiliki produktivitas maksimal," tambahnya.
Implementasi melalui Pengabdian Masyarakat
Selain aspek teknis, Prof. Mirza juga berencana menyinergikan program ini dengan kegiatan akademik kampus, seperti KKN Tematik dan pendampingan UMKM sektor kopi. Hal ini dilakukan agar para petani tidak hanya mahir dalam budidaya, tetapi juga kuat secara manajerial.
"Kopi Gayo adalah kebanggaan kita. Dengan sinergi antara Kementan dan kepakaran dari USK, kita optimis kesejahteraan petani akan meningkat. Kami akan mengawal agar program ini berjalan sesuai dengan ekspektasi masyarakat Aceh," pungkas Prof. Mirza Tabrani.
Langkah kementerian ini diharapkan menjadi katalisator bagi kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, akademisi, dan petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan serta kebangkitan ekonomi berbasis komoditas unggulan daerah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar