Oleh: Subki Mohammad Bintang, Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA)
Perang berkepanjangan bukan hanya meluluhlantakkan medan tempur di negeri asing, melainkan juga menggerogoti fondasi perekonomian nasional dan perlahan menempatkan Indonesia tepat di tepian jurang kehancuran. Ketidakpastian global akibat konflik yang tak kunjung usai kini merembes masuk ke dalam negeri, menekan pertahanan ekonomi yang sejatinya menjadi penyangga kehidupan seluruh rakyat.
Berikut fakta-fakta nyata yang menguatkan kekhawatiran ini:
1. Anggaran rakyat terancam teralihkan demi menanggung dampak perang
Ketegangan global yang terus berlanjut memaksa negara menambah beban alokasi anggaran untuk menghadapi dampak ketidakstabilan dunia. Setiap rupiah yang tersedot untuk menanggulangi dampak perang adalah pengurangan porsi yang seharusnya diperuntukkan bagi pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, serta pemberdayaan ekonomi rakyat. Semakin lama api konflik menyala, semakin berat beban yang dipikul negara dan semakin sempit jalan menuju kemajuan bangsa.
2. Pertumbuhan melambat sementara biaya hidup terus melonjak
Gangguan jalur perdagangan internasional mendorong kenaikan harga bahan bakar, bahan baku industri, hingga kebutuhan pokok. Bank Dunia dan IMF telah berulang kali memperingatkan: gejolak global yang berkepanjangan dapat menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang seperti Indonesia, sekaligus memperlambat penurunan angka kemiskinan. Harga naik, namun daya beli rakyat justru melemah — beban terberat kembali jatuh kepada kaum lemah.
3. Rantai pasokan terputus, biaya logistik membengkak berlipat ganda
Ketergantungan kita terhadap pasokan dari luar negeri masih cukup besar. Ketika jalur pelayaran dan perdagangan terganggu, biaya pengiriman melonjak tajam dan produksi dalam negeri ikut terhambat. Seluruh kenaikan biaya ini pada akhirnya dibebankan kepada konsumen di dalam negeri, membebani pelaku usaha kecil sekaligus menyempitkan ruang nafas perekonomian rakyat.
4. Nilai tukar terguncang, investasi rawan meninggalkan negeri
Di tengah ketidakpastian dunia, nilai tukar rupiah rentan terus melemah. Modal asing cenderung berbalik arah, meninggalkan pasar kita menuju tempat yang dianggap lebih aman. Rencana investasi yang seharusnya membuka lapangan kerja menjadi tertunda atau bahkan batal. Tanpa tambahan investasi yang memadai, masa depan perekonomian nasional kian terancam tergelincir ke bawah.
Penutup
Tidak ada negara yang mampu berdiri tegak sendirian di tengah badai perang yang melanda dunia. Jika ketegangan terus berlanjut dan pertahanan ekonomi kita terus dikerogoti, maka jurang kehancuran bukan sekadar kiasan semata — melainkan kenyataan yang akan segera dihadapi. Karena itu, menjaga kedaulatan bangsa, menata perekonomian dengan disiplin dan transparan, serta menegakkan keadilan atas kekayaan rakyat adalah satu-satunya jalan agar Indonesia tidak terperosok jatuh ke dalam kehancuran. Semoga kita semua terbangun sebelum terlambat.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar