BANDA ACEH_Harian-RI.com
Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), Subki Mohammad Bintang, menyampaikan peringatan tegas kepada mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla agar tidak sembarangan menyampaikan pernyataan yang berkaitan dengan Aceh.
"Kami meminta kepada Bapak Jusuf Kalla: jangan asal mengeluarkan pendapat. Beliau seolah-olah memahami persoalan Aceh, padahal pada kenyataannya beliau tidak mengenal Aceh secara utuh, tidak memahami sejarah panjang perjuangan rakyat, tidak merasakan langsung penderitaan di masa konflik maupun DOM, dan tidak tahu secara mendalam tentang realitas kehidupan rakyat di gampong-gampong saat ini," tegas Subki Mohammad Bintang.
PBA juga menegaskan dengan tegas: "Tuntutan hak merdeka bukanlah larangan dalam sebuah konstitusi." Setiap rakyat berhak menyampaikan aspirasi, menyuarakan keinginan, dan memperjuangkan nasibnya. Menyampaikan tuntutan bukan berarti melanggar aturan, apalagi jika hal itu lahir dari kesadaran dan pengalaman sejarah yang panjang. Konstitusi seharusnya menjadi wadah untuk mendengarkan dan memenuhi aspirasi rakyat, bukan justru dijadikan alat untuk membungkam suara mereka.
PBA menegaskan, Jusuf Kalla memang terlibat dalam proses perundingan damai tahun 2005, namun keterlibatan dalam satu momen tidak berarti beliau memahami seluruh duka, harapan, dan tuntutan rakyat Aceh yang mendalam. Pernyataan-pernyataan yang menyudutkan atau menyederhanakan persoalan Aceh secara sepihak hanya akan melukai perasaan rakyat yang telah berkorban begitu besar.
"Jika ingin berbicara tentang Aceh, dengarkanlah suara rakyat Aceh, bukan hanya melihat dari satu sudut pandang di atas kertas atau ruang rapat. Jangan membuat pernyataan yang menimbulkan luka baru atau menuduh rakyat yang sedang menuntut haknya sendiri. Karena rakyat Aceh tidak butuh pendapat yang tidak memahami realitas mereka," tambah beliau.
PBA mengajak seluruh pihak, termasuk tokoh bangsa, untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan terkait Aceh. Hormati perbedaan, pahami sejarah, dan hargai pengorbanan yang telah diberikan.
"Jangan asal bicara jika belum benar-benar memahami hati dan sejarah rakyat Aceh. Karena Aceh bukan sekadar nama di peta, Aceh adalah perjuangan yang panjang dan mahal harganya," pungkas Subki Mohammad Bintang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar