ACEH UTARA_Harian-RI.com
Kekecewaan yang selama ini dipendam oleh sejumlah relawan dan tim lapangan mulai disuarakan secara terbuka. Hampir dua tahun setelah perjuangan politik Mualem–Dek Fadh, muncul pertanyaan serius dari kalangan tim pemenangan dan relawan mengenai tindak lanjut terhadap berbagai aspirasi, program, serta persoalan yang menurut mereka belum mendapatkan kejelasan.
Suara keras tersebut disampaikan Mansur, Ketua Rakan Melenial Mualem Kabupaten Aceh Utara, yang menyatakan bahwa keresahan para relawan tidak boleh lagi dianggap sebagai persoalan kecil.
Menurut Mansur, para relawan telah berada di garis depan selama proses perjuangan politik. Mereka turun ke lapangan, membangun komunikasi dengan masyarakat, menyampaikan visi dan program, serta mengerahkan tenaga dan pikiran demi memenangkan perjuangan yang mereka yakini.
Namun setelah hampir dua tahun berlalu, Mansur mempertanyakan mengapa berbagai program yang pernah diusulkan oleh tim belum menunjukkan kejelasan realisasi.
“Kami sudah hampir dua tahun menunggu. Kami ingin bertanya secara terbuka: apakah suara kami benar-benar didengar, atau selama ini kami hanya dibutuhkan ketika suara masyarakat sedang diperlukan?” ujar Mansur.
Ia menegaskan bahwa para relawan tidak meminta perlakuan istimewa.
“Kami tidak meminta karpet merah. Kami hanya meminta komunikasi yang jelas dan penghargaan terhadap perjuangan kami. Kalau memang program yang kami usulkan tidak bisa direalisasikan, sampaikan secara terbuka. Jangan biarkan kami terus menunggu tanpa kepastian,” tegasnya.
JANGAN HANYA DIINGAT SAAT BUTUH SUARA
Mansur menilai hubungan antara pemimpin dan relawan seharusnya tidak berhenti setelah proses pemilihan selesai.
Menurutnya, para relawan bukan mesin politik yang hanya diperlukan menjelang pemilu. Mereka adalah bagian dari perjuangan yang seharusnya tetap dihargai dan diberikan ruang untuk menyampaikan aspirasi.
“Jangan hanya datang ketika membutuhkan suara. Setelah suara diberikan, tim lapangan jangan kemudian dilupakan. Kalau seperti itu, tentu kami bertanya, untuk apa selama ini kami berjuang?” katanya.
Mansur juga menyampaikan kekecewaan terhadap komunikasi dengan pihak-pihak yang menurutnya memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan dengan jaringan relawan, termasuk Mualem dan Ermiadi Abdurahman.
Ia berharap kritik tersebut tidak dianggap sebagai permusuhan, tetapi sebagai bentuk evaluasi dan peringatan dari bawah.
TGK ROHID BENARKAN ADANYA KERESAHAN
Pernyataan Mansur turut mendapat tanggapan dari Jamal Luddin alias Tgk Rohid, yang menyatakan bahwa keresahan tersebut bukan hanya dirasakan oleh tim di Aceh Utara.
Tgk Rohid mengatakan bahwa dirinya dan sejumlah tim di tingkat provinsi juga merasakan persoalan serupa.
“Apa yang disampaikan Saudara Mansur itu memang menjadi keresahan kami juga. Sampai saat ini, kami di tingkat provinsi belum merasakan apa yang kami harapkan dari pemerintah Mualem. Kami tidak berbicara soal meminta jabatan. Kami berbicara tentang penghargaan, komunikasi, dan penyelesaian persoalan yang berkaitan dengan perjuangan di lapangan,” ujar Tgk Rohid.
Menurutnya, selama perjuangan politik berlangsung, banyak pihak di lapangan yang mengeluarkan tenaga, waktu, pikiran, dan biaya untuk mendukung perjuangan tersebut.
Ia juga menyinggung adanya persoalan biaya pemilu yang menurut pengakuannya masih menyisakan kewajiban.
“Yang ada justru masih ada kewajiban atau utang selama masa pemilu yang menurut kami belum semuanya lunas, termasuk biaya baliho dan kebutuhan lapangan lainnya. Ini harus ada kejelasan dan penyelesaian,” tegas Tgk Rohid.
Ia meminta agar persoalan tersebut dibicarakan secara terbuka sehingga tidak menjadi beban berkepanjangan bagi tim yang berada di lapangan.
“Kami tidak ingin menuduh siapa pun. Kalau memang masih ada kewajiban, mari diselesaikan. Kalau ada perbedaan data, mari duduk bersama, buka catatan dan bicarakan secara transparan. Jangan sampai orang-orang di bawah yang akhirnya menanggung beban,” katanya.
TIM LAPANGAN MINTA DUDUK BERSAMA
Baik Mansur maupun Tgk Rohid menekankan pentingnya dialog terbuka antara pimpinan dan para relawan.
Menurut mereka, apabila terdapat persoalan komunikasi, program, maupun kewajiban yang belum terselesaikan, semuanya harus dibahas secara terbuka dan berdasarkan data.
Tgk Rohid menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan dimaksudkan untuk menciptakan permusuhan.
“Kami masih menghormati perjuangan yang telah kami lalui bersama. Tetapi menghormati bukan berarti kami harus diam ketika ada persoalan. Kami ingin menyelesaikannya dengan baik. Kami hanya meminta suara kami didengar dan persoalan yang ada mendapatkan kejelasan,” ujarnya.
HAMPIR DUA TAHUN BUKAN WAKTU YANG SINGKAT
Mansur kembali menegaskan bahwa hampir dua tahun merupakan waktu yang cukup panjang untuk memberikan penjelasan kepada tim mengenai berbagai program dan aspirasi yang pernah disampaikan.
Ia berharap pimpinan tidak menunggu sampai kekecewaan di tingkat bawah semakin melebar.
“Kalau kami salah, katakan kami salah. Kalau program kami tidak bisa dijalankan, jelaskan alasannya. Kalau ada aturan yang menghambat, sampaikan. Yang kami butuhkan adalah kejelasan, bukan janji yang terus digantung,” katanya.
Menurut Mansur, pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang hanya mendengar pujian, tetapi pemimpin yang mampu menerima kritik dari orang-orang yang pernah berdiri di garis depan.
SUARA RELAWAN BUKAN ANGIN LALU
Keresahan yang disampaikan Mansur dan Tgk Rohid menjadi sinyal bahwa komunikasi dengan tim lapangan perlu mendapatkan perhatian serius.
Para relawan berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui pertemuan terbuka, bukan melalui saling menyalahkan.
Mereka juga meminta agar seluruh persoalan yang berkaitan dengan program maupun kewajiban biaya perjuangan diverifikasi berdasarkan data dan diselesaikan secara transparan.
“Kami tidak sedang mencari musuh. Kami sedang mencari jawaban,” ujar Mansur.
Sementara Tgk Rohid menambahkan:
“Jangan sampai kami hanya dianggap penting ketika suara sedang dibutuhkan. Setelah perjuangan selesai, kami juga masih ada dan kami juga punya hak untuk mendapatkan penjelasan.”
Kini pertanyaan yang mengemuka di kalangan relawan semakin jelas:
Apakah suara tim lapangan benar-benar masih didengar?
Apakah program yang pernah diusulkan akan mendapatkan kepastian?
Dan bagaimana penyelesaian kewajiban biaya perjuangan yang menurut sejumlah tim masih tersisa?
Para relawan menunggu jawaban dan langkah konkret dari pihak terkait. Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar tentang kepentingan pribadi, tetapi menyangkut kepercayaan, komunikasi, komitmen, dan penghargaan terhadap orang-orang yang pernah berdiri di garis depan perjuangan politik.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar