Oleh: Tgk Mahdi Nurdin
Dewan Pengawas Panitia Yayasan Ampera
Setiap perhelatan besar selalu menyimpan satu pertanyaan mendasar: apakah ia dapat berlangsung dengan tertib, aman, dan khidmat? Muzakarah Internasional Ulama Sufi ke-II yang diselenggarakan Yayasan Ampera telah menjawabnya dengan baik. Di balik kelancaran acara itu ada kerja sama yang patut dicatat, yaitu kolaborasi erat antara panitia dan jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Aceh.
Sebagai bagian dari dewan pengawas panitia, saya menyaksikan langsung bagaimana kerja sama ini dibangun. Ia tidak lahir dari seremoni di hari pelaksanaan, tetapi dari komunikasi yang terjalin sejak tahap perencanaan. Panitia menyampaikan kebutuhan, karakter jamaah, dan alur kegiatan. Kepolisian merespons dengan pemetaan kerawanan, pengaturan lalu lintas, dan penempatan personel yang proporsional. Pembagian peran yang jelas inilah yang membuat pelaksanaan di lapangan berjalan terarah.
Acara yang menghadirkan ulama dan tamu dari berbagai daerah, bahkan lintas negara, tentu membawa tantangan tersendiri. Arus kendaraan meningkat, kerumunan perlu dikelola, dan kenyamanan tamu kehormatan harus dijaga. Semua itu menuntut kesiapan yang tidak bisa diserahkan pada satu pihak saja. Panitia tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan aparat, dan aparat pun akan lebih mudah bertugas bila panitia terbuka dan komunikatif. Kedua sisi itu bertemu dalam kerja sama yang saling melengkapi.
Yang menarik, pendekatan keamanan dalam acara ini terasa humanis. Personel kepolisian hadir bukan sebagai kekuatan yang menciptakan jarak, melainkan sebagai pengayom yang ramah dan sigap membantu. Jamaah yang datang dengan niat menimba ilmu dan mempererat ukhuwah tidak merasa diawasi secara berlebihan, tetapi merasa terlindungi. Suasana batin seperti ini sangat penting bagi majelis ilmu dan zikir yang menuntut ketenangan hati.
Nilai ini sejalan dengan semangat tasawuf yang diusung muzakarah. Dunia sufi mengajarkan adab, kedamaian, dan penghormatan kepada sesama. Menjadi ironis bila forum yang menyerukan kelembutan jiwa justru diwarnai kekacauan. Karena itu, ketertiban bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga marwah acara. Kolaborasi dengan Polda Aceh memastikan pesan-pesan para ulama sampai kepada umat dalam suasana yang kondusif.
Keberhasilan ini juga memberi pelajaran bahwa hubungan antara umat dan aparat keamanan dapat dibangun di atas kepercayaan. Aceh memiliki tradisi kuat dalam penghormatan kepada ulama, dan kepolisian yang bertugas di tanah ini memahami konteks sosial dan kultural tersebut. Ketika aparat memahami adat dan nilai setempat, pengamanan tidak terasa kaku. Ia menjadi bagian dari pelayanan kepada masyarakat yang sedang menjalankan kegiatan keagamaan.
Tentu, kesuksesan ini bukan alasan untuk berpuas diri. Setiap penyelenggaraan selalu menyisakan bahan evaluasi, baik soal pengaturan parkir, alur masuk jamaah, maupun koordinasi antarsatuan tugas. Evaluasi yang jujur dan terbuka akan membuat muzakarah berikutnya lebih baik. Kolaborasi yang telah terbangun perlu dirawat dan dilembagakan sebagai praktik baik yang dapat ditiru oleh penyelenggara kegiatan keagamaan lainnya.
Atas nama dewan pengawas, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kapolda Aceh beserta seluruh jajaran yang telah bekerja dengan penuh tanggung jawab. Terima kasih pula kepada seluruh panitia, relawan, dan jamaah yang menjaga adab selama acara berlangsung. Kesuksesan ini adalah milik bersama, buah dari kerja sama yang tulus.
Semoga sinergi ini terus terjaga, dan semoga setiap majelis ilmu yang kita gelar senantiasa menjadi sumber keberkahan bagi Aceh dan umat. Wallahu a'lam bish-shawab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar