Surat Al-'Asr Mengingatkan Pemimpin Tentang Waktu dan Amanah
  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger Templates

    Kode IT


    terkini

    Surat Al-'Asr Mengingatkan Pemimpin Tentang Waktu dan Amanah

    Dimas ( Redaksi )
    29 Oktober 2026, 10/29/2026 05:30:00 PM WIB Last Updated 2026-10-29T10:30:41Z

     



    SUBULUSSALAM_Harian-RI.com

    Jabatan adalah amanah. Kekuasaan adalah ujian. Dan waktu adalah sesuatu yang tidak pernah kembali.

    Pesan sederhana namun sangat dalam itu dapat direnungkan dari Surat Al-'Asr, surat ke-103 dalam Al-Qur'an. Kamis (29/10/2026)


    "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."

    (QS. Al-'Asr: 1–3)


    Tiga ayat pendek tersebut seakan memberikan cermin bagi setiap manusia, termasuk mereka yang sedang memegang kekuasaan.


    Ketika Seorang Ustad Berada di Kursi Kekuasaan


    Ketika seorang yang dikenal sebagai ustadz dan memiliki latar belakang keagamaan dipercaya masyarakat menduduki kursi wali kota, tentu harapan masyarakat menjadi lebih besar.


    Bukan berarti seorang ustad harus menjadi manusia tanpa kesalahan.


    Pemimpin tetap manusia yang bisa keliru, bisa salah mengambil kebijakan dan bisa membutuhkan masukan.


    Namun, masyarakat tentu berharap nilai-nilai agama yang selama ini diajarkan juga menjadi bagian dari cara menjalankan pemerintahan.


    Kejujuran, amanah, keadilan, keterbukaan, kesederhanaan dan kesediaan menerima nasihat merupakan nilai-nilai yang semestinya tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir dalam praktik kepemimpinan.


    Di sinilah Surat Al-'Asr menjadi relevan.

    Jabatan Itu Ada Batasnya

    Allah membuka Surat Al-'Asr dengan sumpah atas waktu.


    Pesannya sangat kuat: waktu terus berjalan dan tidak pernah bisa diulang.

    Begitu pula jabatan wali kota.


    Hari ini seseorang berada di kursi wali kota. Besok atau beberapa tahun kemudian, kursi tersebut akan kembali menjadi milik rakyat dan ditempati oleh orang lain.


    Karena itu, seorang pemimpin seharusnya tidak hanya bertanya:

    “Apa yang bisa saya lakukan dengan kekuasaan ini?”


    Tetapi juga:


    “Apa yang akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah ketika masa jabatan ini berakhir?”


    Sebab ketika jabatan berakhir, fasilitas kekuasaan akan ditinggalkan.


    Yang dibawa bukan kursi wali kota, bukan jabatan, bukan kendaraan dinas, bukan popularitas.


    Yang dibawa adalah amal dan pertanggungjawaban.

    Kritik Rakyat Jangan Dianggap Kebencian


    Ada satu pesan penting dalam Surat Al-'Asr yang sering dilupakan: watawaá¹£au bil-ḥaqq — saling menasihati dalam kebenaran.


    Kalimat ini semestinya menjadi budaya dalam kehidupan pemerintahan.

    Rakyat boleh mengingatkan pemimpin.

    Pers boleh mengkritisi kebijakan pemerintah.


    Organisasi masyarakat boleh menyampaikan aspirasi.

    Tokoh agama boleh memberikan nasihat.

    Dan pemimpin pun berhak memberikan penjelasan kepada masyarakat.


    Semua itu merupakan bagian dari kehidupan demokrasi apabila dilakukan dengan cara yang santun, berdasarkan fakta dan tidak menyerang kehormatan pribadi.


    Karena itu, kritik tidak selalu berarti kebencian.

    Kadang-kadang kritik justru lahir dari kecintaan.

    Seorang anak mengingatkan ayahnya bukan karena membenci ayahnya.


    Seorang sahabat menegur sahabatnya bukan karena ingin menjatuhkannya.


    Begitu pula rakyat yang mengingatkan pemimpinnya tidak otomatis berarti ingin menjatuhkan pemerintahan.


    Bisa jadi rakyat hanya ingin mengatakan:

    “Pak Wali, kami memilih dan mempercayai Bapak. Karena itu, kami berharap Bapak tetap berada di jalan yang benar.”


    Pemimpin Tidak Membutuhkan Orang yang Selalu Mengatakan “Iya”


    Pemimpin yang hanya mendengar pujian akan kesulitan melihat kekurangan pemerintahannya sendiri.


    Karena itu, seorang pemimpin justru membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan kebenaran, meskipun terkadang kebenaran itu terasa pahit.


    Pers yang kritis, masyarakat yang aktif, LSM yang melakukan pengawasan dan DPRK yang menjalankan fungsi kontrol bukanlah musuh pemerintah.


    Mereka adalah bagian dari sistem yang dapat membantu pemerintah menemukan kekurangan dan memperbaikinya.


    Yang harus dibangun adalah kritik berbasis data, bukan fitnah; pengawasan berbasis fakta, bukan kebencian; dan pemberitaan yang berimbang, bukan penghakiman.


    Tetapi Kritik Juga Harus Beradab

    Mengingatkan pemimpin tidak berarti bebas berkata apa saja.


    Surat Al-'Asr juga mengingatkan tentang kesabaran.


    Artinya, rakyat, pers dan kelompok masyarakat juga harus menjaga etika.

    Jangan menuduh tanpa bukti.

    Jangan memvonis sebelum ada fakta.

    Jangan mengubah kritik kebijakan menjadi serangan pribadi.


    Sebab tujuan kritik seharusnya bukan membuat seorang pemimpin malu, tetapi membantu agar pemerintahan menjadi lebih baik.


    Subulussalam Sedang Menunggu Bukti, Bukan Sekadar Janji


    Masyarakat tentu berharap masa kepemimpinan yang baru tidak hanya menghasilkan perubahan dalam slogan, tetapi juga perubahan yang benar-benar dirasakan.


    Persoalan anggaran, pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, kesejahteraan masyarakat, pengelolaan pemerintahan dan berbagai persoalan lainnya membutuhkan jawaban melalui kerja nyata.


    Di sinilah seorang pemimpin diuji.

    Bukan ketika semua orang memuji.

    Tetapi ketika muncul persoalan, kritik dan tekanan.


    Apakah pemimpin memilih marah kepada orang yang mengkritik?


    Ataukah memilih duduk bersama, mendengarkan, memeriksa data dan memperbaiki apabila memang terdapat kekeliruan?


    Jawaban terhadap pertanyaan itu akan menunjukkan kualitas kepemimpinan.


    Teguran Bisa Menjadi Bentuk Cinta


    Masyarakat Subulussalam tidak membutuhkan permusuhan antara rakyat dan pemerintah.


    Yang dibutuhkan adalah pemerintahan yang kuat, transparan dan mau mendengar.


    Dan masyarakat yang kritis tetapi tetap santun.


    Karena itu, teguran kepada seorang wali kota yang juga dikenal sebagai ustadz seharusnya tidak selalu dibaca sebagai bentuk kebencian.


    Bisa jadi itu adalah teguran dengan cinta.

    Cinta kepada kota.

    Cinta kepada masyarakat.


    Dan bahkan cinta kepada pemimpin agar tidak tersesat oleh kekuasaan.


    Sebab kekuasaan memiliki satu penyakit yang sangat berbahaya: ketika terlalu banyak orang di sekitar seorang pemimpin hanya mengatakan bahwa semuanya sudah benar.


    Padahal mungkin masih ada yang harus diperbaiki.


    Pada Akhirnya, Semua Akan Kembali kepada Allah

    Surat Al-'Asr memberikan pesan yang sederhana:

    Iman. Amal saleh. Kebenaran. Kesabaran.

    Empat hal itulah yang menjadi jalan keluar dari kerugian manusia.


    Maka bagi seorang pemimpin, masa jabatan bukan sekadar periode politik.

    Ia adalah masa ujian.


    Dan bagi rakyat, kritik bukan sekadar keberanian berbicara.

    Ia juga merupakan amanah untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar.

    Karena pada akhirnya, wali kota akan meninggalkan kursinya.


    Wartawan akan meletakkan penanya.

    Aktivis akan berhenti bersuara.

    Rakyat pun akan meninggalkan dunia.


    Yang tersisa hanyalah catatan amal dan pertanggungjawaban masing-masing di hadapan Allah SWT.


    Maka sebelum waktu itu habis, mari saling mengingatkan.

    Bukan dengan kebencian.

    Bukan dengan fitnah.


    Tetapi dengan kebenaran dan kesabaran.

    Karena itulah pesan yang dapat kita renungkan dari Surat Al-'Asr. (Red)

    Komentar
    Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
    • Surat Al-'Asr Mengingatkan Pemimpin Tentang Waktu dan Amanah

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    Topik Populer