Satu Minggu Satgas USK untuk Aceh: Menembus Isolasi, Memperkuat Harapan
  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger Templates

    Kode IT


    terkini

    Satu Minggu Satgas USK untuk Aceh: Menembus Isolasi, Memperkuat Harapan

    Dimas ( Redaksi )
    7 Desember 2025, 12/07/2025 08:49:00 AM WIB Last Updated 2025-12-07T01:49:22Z


    Harian-RI.com

    Laporan Pekanan Satgas USK Respons Badai Senyar (28 November - 5 Desember 2025)

    Dalam tujuh hari sejak Badai Senyar menerjang berbagai wilayah Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Satgas Respons Senyar telah menggerakkan kekuatan terbaiknya—dosen, mahasiswa, peneliti, tenaga medis, relawan pecinta alam, organisasi kemahasiswaan, hingga jejaring mitra nasional—untuk menjangkau masyarakat terdampak di tengah situasi darurat yang terus berkembang. Respons ini bukan sekadar rangkaian tugas, tetapi wujud komitmen USK untuk hadir ketika Aceh membutuhkan. Selama sepekan, Satgas USK menempuh rute-rute darurat, menata kembali layanan kesehatan, membuka akses bagi wilayah yang terisolasi, mendistribusikan logistik, menyiapkan air bersih, serta memperkuat komunikasi publik. Setiap langkah dilakukan dalam cuaca yang tidak bersahabat, dengan akses jalan yang runtuh, banjir yang merendam pemukiman, dan masyarakat yang menunggu kabar keselamatan.

    Gambar 1. Pada 28 November 2025, Universitas Syiah Kuala (USK) mengaktifkan mekanisme penanganan bencana melalui Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC). Aktivasi ini diikuti pembentukan Satgas Respons Senyar oleh Rektor, yang menjadi struktur komando terpadu untuk mengkoordinasikan fakultas, lembaga, dan unit layanan dalam satu kerangka kerja respons darurat.

    Spektrum Aktivitas Satgas: Siapa Terlibat dan Apa yang Dilakukan?

    Dalam satu minggu pertama, lebih dari 300 personel USK terlibat dalam operasi kemanusiaan ini. Sekitar 100 tenaga medis bertugas di fasilitas kesehatan di Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, hingga Aceh Tamiang.

    Gambar 2. Pelepasan tim pertama yang terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan personel Rumah Amal. Rektor melepas tim ini di halaman Gedung Rektorat. Fokus utama mereka adalah layanan medis darurat dan penilaian kesehatan awal di wilayah yang terdampak secara langsung oleh Siklon Senyar.

    Lebih dari 120 relawan lainnya dari berbagai kalangan civitas akademika USK berperan dalam distribusi logistik, asesmen lapangan, dapur umum, dan media. Tim pecinta alam dari UKM-PA Leuser menjalankan operasi pembukaan akses dan evakuasi di zona sulit. Sementara, 80 relawan yang terlibat di tim media termasuk dari UKM Detak USK dan mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi USK terlibat dalam pelaporan dan publikasi. Di Banda Aceh, puluhan relawan dari FORMASI (Forum Mahasiswa Syiah Kuala), organisasi kemahasiswaan, dan Rumah Amal USK mengoperasikan dapur umum bagi mahasiswa terdampak. Secara keseluruhan, Satgas USK bekerja di lebih dari 20 desa dan enam kabupaten: Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tamiang, dan Banda Aceh.

    Gambar 3. TDMRC menggelar rapat persiapan final di Sekretariat Satgas Respons Senyar. Rapat ini mengatur metodologi kaji cepat, strategi pengumpulan data, dan rencana mobilisasi untuk penugasan esok hari. Tim kaji cepat akan memetakan kerusakan, mengidentifikasi kebutuhan prioritas, dan menghasilkan data awal bagi kebijakan lanjutan.

    Sebagai bagian dari penguatan kolaborasi nasional, Satgas USK juga menerima dukungan strategis dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi—Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (Kemendiktisaintek), yang telah menetapkan hibah sebesar Rp2,5 miliar untuk program pengabdian masyarakat pada daerah terdampak Badai Senyar. Dalam skema ini, USK akan berperan aktif sebagai pelaksana kegiatan di lapangan, mulai dari pemulihan layanan dasar, pendampingan masyarakat, hingga penguatan kapasitas. Dukungan ini tidak hanya memperluas jangkauan respons Satgas, tetapi juga memperkuat komitmen bahwa pemulihan pascabencana adalah upaya bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.

    Minggu Pertama: Saat Waktu Menjadi Penyelamat

    Gambar 4, Pada 30 November, empat surveyor TDMRC–USK, diberangkatkan ke Pidie Jaya untuk melakukan rapid assessment, memetakan wilayah terdampak, dan mengidentifikasi kebutuhan mendesak masyarakat.

    Ketika aliran listrik padam, jembatan runtuh, dan ribuan warga kehilangan akses layanan kesehatan, Satgas USK bergerak cepat menurunkan tim medis dari RS Pendidikan FK USK dan PATUBEL (Perwira Tugas Belajar) untuk memperkuat layanan darurat di RSUD Meureudu, rumah sakit yang saat itu beroperasi jauh melampaui kapasitasnya. Dalam hitungan jam, tim USK menata ulang sistem triase—proses memilah pasien berdasarkan tingkat kegawatdaruratan, mengatur alur pelayanan gawat darurat, dan mulai menangani pasien yang terus berdatangan.

    Dalam beberapa hari, total lebih dari 100 tenaga kesehatan—residen, dokter muda, perawat, dan tenaga medis sukarela—dikirim ke Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, hingga Aceh Tamiang. Sebanyak lebih dari 600 pasien telah ditangani, mayoritas dengan keluhan ISPA, luka terinfeksi, diare, demam, dan trauma akibat reruntuhan.

    Jangkauan Logistik: Menelusuri Desa-Desa yang Membutuhkan

    Sementara tim medis bekerja, gelombang tim logistik Satgas USK bergerak menembus desa-desa terdampak. Bantuan dari BTN, Bea Cukai, Rumah Amal USK, dan mitra kemanusiaan lainnya disalurkan ke titik-titik paling terdampak, seperti Manyang Cut (Kab. Pidie Jaya), Tijien Husen (Kab. Pidie Jaya), Kuta Blang (Kab. Bireuen), Alue Keutapang (Kab. Bireuen), hingga Meunasah Jurong (Kab. Bireuen).

    Gambar 5. Penyerahan Bantuan BTN ke warga Meunasah Balek

    Di beberapa lokasi, distribusi hanya bisa dilakukan melalui jalur darurat, termasuk dengan sling baja yang dipasang oleh UKM-PA Leuser bersama Persatuan Insinyur Indonesia untuk menyeberangi sungai yang jembatannya putus. Setiap paket logistik yang berhasil dilintaskan menjadi penanda bahwa bantuan tetap bisa tiba, meski akses jalan runtuh di banyak titik.

    Menembus Isolasi: Ketika Mapala Leuser Menjadi Cahaya untuk Desa Bergang

    Salah satu kisah paling kuat dari pekan pertama datang dari Desa Bergang, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Selama lebih dari tujuh hari, desa ini dan dua desa sekitarnya tidak pernah menerima bantuan apapun akibat terisolasi total. Helikopter yang melintas tak dapat mendarat, sementara jalur darat penuh longsor dan jembatan-jembatan putus.

    Gambar 6. Bantuan pertama yang diterima oleh warga Gampong bergang, diserahkan oleh Mapala Leuser USK

    Dalam kondisi itu, Mapala Leuser USK menjadi tim pertama yang berhasil masuk. Mereka menempuh lebih dari 80 kilometer rute ekstrem, melintasi empat titik longsor, jembatan putus, serta jalur licin di bawah hujan dan gelap malam, untuk memastikan bahwa 551 warga Bergang—termasuk puluhan bayi, balita, ibu hamil, dan para lansia—tidak ditinggal.

    Tidak hanya membawa logistik, mereka juga mengevakuasi warga kelompok rentan—seorang tunanetra dengan satu tangan, ibu hamil, lansia, hingga balita—melalui jembatan gantung menggunakan sit harness (sabuk keselamatan yang umum dipakai dalam penyelamatan tebing/jembatan).

    Seorang warga menahan tangis dan berkata:

    “Ini satu-satunya bantuan yang masuk… terima kasih sudah datang.”

    Misi ini menjadi simbol bahwa Satgas USK bukan sekadar mengirim bantuan, tetapi hadir bagi mereka yang paling sulit dijangkau.

    Air Bersih, Teknologi, dan Kerja Sama Nasional

    Gambar 7. Pemasangan filtrasi air di Pidie Jaya oleh TIM ITB dan USK

    Krisis air bersih yang meluas di sejumlah daerah direspons cepat melalui pemasangan 8 unit Green Ultrafiltrasi—teknologi penyaringan air berbasis membran yang mampu menghasilkan air minum siap konsumsi dengan energi minimal. Program ini merupakan kolaborasi antara ITB, IA ITB, Rumah Amal Salman, Kemendikbudristek, dan USK.

    Di saat yang sama, ITS bersiap mengirim mesin pengolahan air permukaan untuk kebutuhan fase pemulihan jangka panjang. Kolaborasi lintas kampus dan lembaga ini menjadi bukti bahwa solidaritas nasional untuk Aceh terus menguat.

    Dapur Umum: Menjaga Mahasiswa dari Rasa Lapar

    Gambar 8. Mahasiswa USK menerima makan gratis melalui Dapur Umum Rumah Aman USK

    Di Banda Aceh, dampak bencana turut dirasakan oleh mahasiswa USK, banyak di antaranya berasal dari keluarga terdampak atau kehilangan dukungan sementara. Untuk itu, Rumah Amal USK mengaktifkan dapur umum sejak 30 November, yang telah melayani lebih dari 1.300 mahasiswa. Dukungan datang dari FORMASI (Forum Mahasiswa Syiah Kuala), organisasi mahasiswa berbagai fakultas, dan relawan kampus yang setiap hari memasak dan membagikan makanan.

    Menguatkan Informasi: Pelatihan, Media, dan Pelaporan

    Gambar 9. Pelatihan untuk relawan media, dilaksanakan selama 2 hari untuk membekali kemampuan jurnalistik kebencanaan para relawan.

    Satgas USK juga memperkuat komunikasi publik melalui pelatihan relawan media, jurnalisme bencana, komunikasi risiko, serta penggunaan perangkat survei krisis KoboToolbox. Tiga divisi informasi—Divisi Data Lapangan, Divisi Produksi Konten, dan Divisi Analisis Strategis—dibentuk untuk memastikan setiap informasi dapat diverifikasi, dianalisis, dan dipublikasikan secara akurat dan bertanggung jawab.

    Website resmi Satgas, https://senyar-aceh.usk.ac.id, kini menjadi pusat data situasi, laporan harian, artikel lapangan, serta kanal donasi publik. Dalam satu minggu pertama, Rumah Amal USK mencatat donasi publik mencapai Rp161 juta, yang seluruhnya diperuntukkan bagi pemulihan masyarakat terdampak.

    Menutup Minggu Pertama: Harapan yang Terus Menyala

    Gambar 10. Foto bersama di depan posko lapangan USK di Pidie Jaya yang bertempat diperkarangan Rs. Meureudu, Pidie Jaya

    Satu minggu respons Satgas USK menunjukkan satu hal penting: bahwa dalam bencana sebesar Senyar, kekuatan terbesar Aceh adalah solidaritasnya. Dari tim medis, relawan kampus, organisasi pecinta alam, akademisi, hingga mitra nasional—semuanya bergerak dengan satu tujuan: memastikan tidak ada satu pun warga yang tertinggal. Masih banyak pekerjaan menanti—desa-desa yang membutuhkan akses, jalan yang masih tertutup, serta pengungsi yang memerlukan layanan berkelanjutan. Namun dengan komitmen kolektif dan koordinasi yang terus diperkuat, Satgas USK siap melanjutkan tugas ini di minggu-minggu mendatang.

    Alamat Posko Satgas USK

    Gedung TDMRC Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

    Jl. Hamzah Fansuri, No 8A, Kopelma Darussalam Banda Aceh

    Seluruh rangkaian kegiatan berada di bawah koordinasi Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh. Informasi resmi, pembaruan lokasi layanan, dan laporan kegiatan tersedia melalui senyar-aceh.usk.ac.id dan Instagram @senyaracehusk. Posko Utama Satgas USK untuk Respons Senyar Aceh beroperasi di Gedung TDMRC USK, dan dukungan masyarakat maupun lembaga dapat dikoordinasikan melalui Call Center 0851-2229-6004.

    Komentar
    Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
    • Satu Minggu Satgas USK untuk Aceh: Menembus Isolasi, Memperkuat Harapan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    Topik Populer