Ketua IWOI Indramayu Atim Sawano Soroti Kasus Perkelahian Pelajar Losarang, Respons Kepsek SMAN 1 Losarang Dipertanyakan
  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger Templates

    Kode IT


    terkini

    Ketua IWOI Indramayu Atim Sawano Soroti Kasus Perkelahian Pelajar Losarang, Respons Kepsek SMAN 1 Losarang Dipertanyakan

    Dimas ( Redaksi )
    5 Juni 2026, 6/05/2026 02:09:00 PM WIB Last Updated 2026-06-05T07:09:36Z

     




    INDRAMAYU_Harian-RI.com

    Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, kembali diguncang oleh aksi tawuran antarpelajar yang kian meresahkan masyarakat. Insiden terbaru terjadi pada Rabu (3/6/2026) di Desa Jangga, tepatnya di Blok Peminggir, yang melibatkan dugaan pelajar dari SMA Negeri 1 Losarang dan SMK Muhammadiyah Kandanghaur.


    Aksi kekerasan yang diduga menggunakan senjata tajam ini tidak hanya menimbulkan kekacauan di jalan umum, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi seorang bocah perempuan berusia 10 tahun yang nyaris menjadi korban di tengah bentrokan tersebut.


    Kasus ini memicu gelombang kritik tajam terhadap sikap pihak sekolah, khususnya SMAN 1 Losarang. Ketua IWOI (Ikatan Wartawan Online Indonesia) Kabupaten Indramayu, Atim Sawano, secara terbuka menyayangkan respons Kepala SMAN 1 Losarang, Ade Sumantri, S.Pd., yang dinilai cenderung "bungkam" atau lepas tangan atas keterlibatan siswanya.



    Sikap ini kontras dengan keprihatinan masyarakat yang merasa keamanan lingkungan terancam akibat ulah oknum pelajar.


    Atim Sawano menilai bahwa respons Kepala SMAN 1 Losarang, Ade Sumantri, S.Pd., yang cenderung "bungkam" dan menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kepada kepolisian tanpa adanya langkah edukatif atau permintaan maaf publik, merupakan bentuk lepas tangan dari tanggung jawab moral institusi pendidikan.


    "Kami sangat menyayangkan sikap Kepala SMAN 1 Losarang yang seolah-olah ingin cuci tangan. Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu akademik, tetapi juga benteng pembentukan karakter. Ketika siswanya terlibat dalam aksi kekerasan yang meresahkan masyarakat dan menimbulkan trauma bagi warga sipil, kepala sekolah harus hadir memberikan klarifikasi, evaluasi internal, dan tanggung jawab moral, bukan hanya bersikap pasif," ujar Atim Sawano.


    Atim menegaskan bahwa alasan "menyerahkan ke polisi" tidak bisa dijadikan pembenaran untuk mengabaikan peran sekolah dalam pencegahan dan pembinaan. "Proses hukum memang ranah kepolisian, tetapi rehabilitasi mental, sanksi administratif, dan evaluasi sistem pengawasan siswa adalah tanggung jawab mutlak sekolah. Sikap diam hanya akan memperburuk citra pendidikan di Losarang dan meningkatkan ketidakpercayaan publik," tambahnya.


    Ketika dikonfirmasi oleh awak media, perwakilan kesiswaan SMAN 1 Losarang, Aceng, memberikan keterangan singkat. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah dipanggil oleh Unit Reskrim Polsek Losarang pagi hari tersebut. 


    "Data anak-anak sudah kami catat, dan jam 2 siang kita bawa ke Polsek Losarang. Adapun proses hukumnya seperti apa, kita serahkan sepenuhnya kepada kepolisian," ujar Aceng. Pernyataan ini dianggap banyak pihak sebagai bentuk penghindaran tanggung jawab moral dan edukatif dari institusi pendidikan.


    Dampak dari tawuran ini sangat serius. Seorang bocah SD berusia 10 tahun yang sedang berada di lokasi kejadian dilaporkan mengalami trauma psikis setelah melihat aksi saling ancam dan bentrok antar remaja yang membawa celurit panjang. 


    Warga sekitar mengungkapkan kekecewaan mereka karena aksi tawuran ini terus berulang dan seolah tidak ada efek jera yang signifikan dari pihak sekolah maupun aparat.


    "Kami khawatir dengan keselamatan anak-anak kami. Jika pelajar saja bisa membawa senjata tajam dan tawuran di siang bolong, bagaimana dengan warga biasa? Sekolah harusnya lebih tegas mendidik, bukan sekadar menyerahkan ke polisi setelah masalah terjadi," keluh salah satu warga Desa Jangga.



    Insiden di Blok Peminggir ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan di Indramayu. Tawuran pelajar bukan lagi sekadar kenakalan remaja, melainkan ancaman nyata terhadap ketertiban umum dan keselamatan jiwa. 



    Diperlukan langkah konkret dan sinergis antara pihak sekolah, kepolisian, orang tua, dan pemerintah daerah untuk memutus mata rantai kekerasan ini. 


    Sikap "lepas tangan" dari institusi pendidikan hanya akan memperparah krisis kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan karakter di sekolah.



    Jimi P. H

    Komentar
    Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
    • Ketua IWOI Indramayu Atim Sawano Soroti Kasus Perkelahian Pelajar Losarang, Respons Kepsek SMAN 1 Losarang Dipertanyakan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    Topik Populer