Pernyataan Subki Mohammad Bintang, Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA)
BANDA ACEH_Harian-RI.com
Sudah genap 21 tahun kesepakatan damai ditandatangani antara Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Namun kenyataan yang kami rasakan sungguh memilukan: orang yang dulu memegang senjata saja bisa ditipu dengan janji-janji manis, apalagi rakyat Aceh yang hidup dalam kepercayaan dan kesederhanaan. Begitulah liciknya perlakuan Indonesia terhadap kami. Sampai kapankah kita masih menunggu hasil yang tak kunjung datang?
Hasil perdamaian yang dirasakan rakyat Aceh hingga kini masih terasa hampa. Dulu mereka berkata, hanya GAM yang meminta kemerdekaan. Namun hari ini, bukan lagi mereka yang bersenjata — ulama Aceh telah bersuara, rakyat luas telah bangkit. Seluruh anak negeri kini memahami: Aceh berhak menentukan nasibnya sendiri.
Aceh adalah negeri yang kaya. Bumi ini menyimpan kekayaan alam yang melimpah ruah, namun justru rakyat di tanah terkaya inilah yang dimiskinkan. Selama 81 tahun berada di bawah pengelolaan Republik Indonesia, Aceh belum pernah merasakan kesejahteraan yang sebanding dengan apa yang kami berikan. Hasil bumi, kekayaan laut, dan segala sumber daya yang dikirim ke luar, tidak kembali menjadi kemaslahatan bagi anak-anak Aceh.
Jika bangsa Aceh terus-menerus ditekan, dipinggirkan, dan dibiarkan miskin di tanah sendiri tanpa henti, maka ketenangan itu akan hilang. Seperti harimau yang lapar, pada akhirnya akan bangkit membela haknya sendiri.
Karena itu, atas nama Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), saya serukan kepada seluruh rakyat Aceh: Mari bersatu, tarik mandat kembali dari Republik Indonesia! Kita kelola tanah air kita sendiri. Indonesia telah terbukti gagal mengurus Aceh selama puluhan tahun. Kini kesejahteraan, kemerdekaan, dan kehormatan Aceh harus dipegang kembali oleh tangan anak-anak Aceh sendiri.
Aceh kaya — dan kekayaan itu harus kembali sepenuhnya kepada rakyat Aceh. Tidak ada alasan lagi kita menderita di tanah yang diberkati kelimpahan ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar