BANDA ACEH_Harain-RI.com
Ketua Umum Lembaga Peumulia Bangsa Atjeh (PBA), Subki Mohammad Bintang, menyoroti pelaksanaan peringatan Hari Damai Aceh di Gedung Meuseuraya yang dinilai tidak berjalan sesuai tata cara dan kaidah keprotokolan yang berlaku. Secara khusus, penyampaian kata sambutan oleh Ketua Badan Reintegrasi & Akselerasi Pembangunan (BRA), Jamaludin, dinilai kurang tertib, terutama dalam hal pemberian penghormatan kepada para duta besar dan perwakilan negara sahabat yang hadir.
Terkait hal ini, banyak mantan kombatan GAM yang hadir dalam acara tersebut turut menyampaikan kekecewaan secara langsung kepada Ketua BRA Jamaludin. Mereka menilai ketidaktertiban tersebut tidak pantas terjadi di momen bersejarah yang menjadi bukti pengakuan dunia atas perdamaian di Aceh.
Lebih mendalam lagi, Subki Mohammad Bintang menegaskan bahwa selama BRA berada di bawah kepemimpinan Jamaludin, belum terlihat adanya program-program yang nyata dan berarti bagi para korban konflik serta mantan tahanan politik (Tapol/Napol).
"Para duta dan perwakilan negara asing yang hadir adalah tamu kehormatan yang datang untuk menghargai proses perdamaian yang telah dicapai di Tanah Aceh. Kesopanan, tata krama, dan penghormatan yang layak kepada tamu negara adalah cermin kematangan bernegara serta kehormatan bagi seluruh rakyat Aceh," ujar Subki Mohammad Bintang.
"Kami melihat langsung banyak saudara kami, para mantan kombatan yang telah berjuang demi kemuliaan tanah ini, menyampaikan ketidakpuasan mereka kepada Ketua BRA. Mereka merasa malu dan kecewa, karena acara yang seharusnya memuliakan nama baik Aceh justru tidak berjalan dengan tertib dan santun. Ditambah lagi, selama BRA dipimpin Jamaludin, belum terlihat program nyata yang menyentuh langsung kehidupan para korban konflik dan mantan Tapol/Napol. Mereka yang berkorban paling besar justru yang paling terlupakan," tegasnya.
Menurut PBA, tata keprotokolan bukan sekadar urusan tata cara, melainkan cermin dari penghargaan kita terhadap hubungan persahabatan antarnegara serta rasa hormat kepada mereka yang turut mendukung kedamaian di Aceh. Lebih dari itu, perdamaian yang sesungguhnya harus juga terwujud dalam perhatian yang tulus kepada mereka yang menjadi korban konflik. Para mantan kombatan berharap kesalahan seperti ini tidak terulang, dan nama baik Aceh serta kehormatan tamu-tamu negara senantiasa dijaga dengan sebaik-baiknya.
PBA mengimbau agar pihak pengelola acara dan pimpinan BRA lebih teliti, disiplin, dan menjunjung tinggi tata krama kenegaraan pada setiap kegiatan resmi ke depan. Di samping itu, BRA juga diminta segera menyusun dan melaksanakan program yang nyata serta menyentuh langsung kebutuhan para korban konflik dan mantan Tapol/Napol, demi menjaga martabat Aceh di mata dalam negeri maupun dunia internasional.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar