BANDA ACEH_Harian-RI.com
Perayaan peringatan Hari Damai Aceh yang berlangsung di luar Gedung Meuseuraya terlihat seolah-olah kehilangan kendali dalam bentuk pertanggungjawaban, tatkala kekecewaan mendalam terhadap pemerintah pusat meluap tak terbendung. Rasa kecewa itu akhirnya tumpah ke jalan-jalan di sekitar tempat yang paling suci dan mulia: Masjid Raya Baiturrahman, kebanggaan segenap bangsa Aceh.
Tempat ini bukan sekadar bangunan batu dan tiang. Baiturrahman adalah rumah Allah — rumah bagi setiap orang yang beragama Islam, bagi setiap jiwa yang beriman. Di sini seharusnya hati tenang, damai, dan bersatu dalam ibadah. Namun kekecewaan yang telah lama dipenduk akhirnya meletus, meluap ke jalanan di sekeliling rumah-Nya, menjadi bukti bahwa janji-janji yang tak ditepati telah menumpuk menjadi luka yang tak tertahankan lagi.
Kekecewaan yang meluap itu bukan tanpa alasan. Selama 21 tahun, rakyat terus menanti pemenuhan kesepakatan, keadilan, serta kesejahteraan yang dijanjikan. Ketika harapan tak kunjung terwujud, suara hati akhirnya terdengar — meski dengan cara yang tidak sempurna, di tempat yang seharusnya menjadi tempat ketenangan.
Masjid Baiturrahman tetaplah rumah Allah yang mulia, tempat pulang dan berlindung. Hendaknya peristiwa ini menjadi pengingat: jangan biarkan ketidakadilan dan kelalaian menjauhkan rakyat dari kedamaian yang sesungguhnya. Dengarkanlah suara mereka, penuhi apa yang menjadi haknya, agar ke depan kita kembali berkumpul di tempat suci ini bukan dalam luapan amarah, melainkan dalam syukur yang tulus dan persaudaraan yang utuh.
Disampaikan oleh ketua umum lembaga peumulia bangsa Atjeh PBA



Tidak ada komentar:
Posting Komentar