Hadapi Tantangan Zaman, Perangi Musuh Dalam Diri, Teguhkan Hati dengan Zikir Kepada Allah
BANDA ACEH_Harian-RI.com
Di tengah gelombang perubahan zaman yang kian bergejolak, di mana kebenaran kerap tertutup kepentingan, persatuan diuji oleh perpecahan, dan kesetiaan kerap dikorbankan demi keuntungan sesaat, Majelis Zikrullah Aceh (MZA) menggelar zikir rutin setiap malam Jumat di Masjid Raya Baiturrahman — tempat yang penuh berkah, jantung ibadah, dan kebanggaan seluruh rakyat Aceh.
Pada kesempatan yang sangat istimewa ini, Pimpinan Majelis Zikrullah Aceh, Syekh Samunzir Bin Husein, menyampaikan pesan yang menyentuh kalbu, mengajak seluruh jamaah yang hadir maupun rakyat Aceh di seluruh pelosok negeri untuk membuka mata, membersihkan hati, dan memerangi musuh yang paling berbahaya — bukan musuh dari luar, melainkan musuh yang bersembunyi di dalam diri sendiri: ujub, riya, dan takabur.
Di Tengah Tantangan Zaman, Musuh Sejati Ada di Dada
Syekh Muda — demikian beliau disapa dengan penuh kasih sayang — memulai dengan mengingatkan bahwa di zaman yang penuh ujian ini, banyak orang waspada terhadap bahaya yang tampak, namun lengah terhadap penyakit yang tak terlihat:
"Saudara-saudaraku yang dicintai Allah, lihatlah zaman kita kini: informasi berkejaran, kepentingan saling bertabrakan, suara kebenaran kerap tenggelam oleh keramaian yang dibuat-buat. Banyak yang sibuk menegur kesalahan orang lain, namun lupa memeriksa apa yang tersimpan di dalam dadanya sendiri. Padahal, musuh yang paling mampu meruntuhkan kemuliaan Aceh bukanlah yang datang dari perbatasan, melainkan yang berdiam di dalam diri kita masing-masing."
Beliau menjelaskan secara mendalam ketiga sifat tercela yang menjadi akar segala perpecahan dan kemunduran:
Pertama, Ujub — Merasa Lebih Dari Orang Lain
"Ujub itu bukan sekadar bangga atas kebaikan yang diperoleh. Ujub adalah merasa bahwa kelebihan yang kita miliki murni hasil usaha dan kepintaran sendiri, seolah lupa bahwa setiap napas, setiap kemampuan, setiap kesempatan berbuat baik itu semata-mata karunia Allah. Ketika seseorang terjangkit ujub, ia mulai mengukur orang lain dengan ukuran yang berbeda, memandang rendah niat saudaranya, dan menganggap dirinya paling pantas dipatuhi. Inilah awal terpecahnya persatuan."
Kedua, Riya — Beramal Agar Dipuji, Bukan Karena Allah
"Di zaman ini, riya menyamar dalam beragam rupa. Ada yang berbicara demi didengar, berbuat demi dilihat, berkorban demi dipuji. Niatnya bukan naik ke langit, melainkan berhenti di bibir manusia. Ketika amal digerakkan oleh hawa nafsu ingin dipuji, maka tidak ada keikhlasan yang tumbuh, tidak ada kebersamaan yang kokoh. Orang yang beramal karena pujian akan kecewa saat tidak dipuji, dan akan berbalik arah saat tidak diakui. Inilah penyakit yang melemahkan kekuatan umat."
Ketiga, Takabur — Merasa Lebih Tinggi, Menolak Kebenaran
"Takabur adalah keruntuhan yang paling nyata. Ia membuat seseorang merasa lebih mulia dari saudaranya, merasa pendapatnya paling benar, merasa orang lain wajib tunduk kepadanya. Padahal, kemuliaan sejati tidak diukur dari kedudukan, kekayaan, atau jumlah pengikut, melainkan dari ketakwaan dan kerendahan hati di hadapan Allah. Sejarah mengajarkan: bangsa yang sombong akan dihancurkan oleh Tuhan, dan hati yang angkuh akan ditutup dari cahaya petunjuk."
Zikir adalah Benteng Terkuat di Segala Masa
Menghadapi ketiga penyakit hati ini, Syekh Samunzir tidak mengajak kepada perpecahan, melainkan kepada pengembalian diri kepada Sang Pencipta:
"Obat paling ampuh, paling sederhana, namun paling luhur di zaman apa pun — baik masa sulit maupun masa jaya — adalah mengingat Allah. Zikir bukan sekadar gerakan bibir di majelis tertentu. Zikir adalah kesadaran yang menyertai setiap langkah, setiap perkataan, setiap keputusan yang diambil."
Beliau mengajak seluruh lapisan masyarakat Aceh — dari orang tua yang duduk di meunasah, pemuda yang berjuang di jalan, para pemimpin yang memegang amanah, hingga anak-anak yang baru belajar mengenal Tuhan — untuk menjadikan zikir sebagai panduan hidup, bukan sekadar kegiatan tambahan:
"Jadikanlah mengingat Allah sebagai cahaya di siang hari dan penenang di malam hari. Saat kita menyebut nama-Nya, kita diingatkan kembali bahwa kita semua hamba yang sama, berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tidak ada yang lebih tinggi selain dengan ketaqwaan. Saat kita menyebut Allah, ujub akan luntur — kita sadar semua ini titipan-Nya. Riya akan lenyap — kita tahu Allah Maha Melihat apa yang tersembunyi di dada. Takabur akan runtuh — kita sadar betapa kecilnya kita di hadapan kekuasaan-Nya."
Zikir rutin setiap malam Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, lanjut beliau, bukan sekadar pertemuan jamaah, melainkan pernyataan bahwa Aceh tetap berdiri di atas iman:
"Setiap kali kita berkumpul di tempat yang mulia ini, kita memperbarui janji: tidak akan membiarkan kesombongan memisahkan kita, tidak akan membiarkan pujian manusia mengubah arah perjuangan kita. Apa pun perbedaan pendapat, apa pun perbedaan kedudukan, di hadapan Allah kita setara — hamba yang memohon rahmat-Nya."
Pesan untuk Masa Depan Aceh
Di penghujung pesannya, Syekh Samunzir menutup dengan harapan yang dalam:
"Wahai bangsa Aceh, negeri yang pernah dikenal dunia karena ketakwaannya, janganlah kita biarkan kesombongan merenggut kemuliaan itu. Hadapilah zaman ini dengan hati yang bersih: tidak menjual kebenaran demi kedudukan, tidak memecah belah demi keuntungan, tidak memuji diri sendiri di atas penderitaan rakyat. Isilah rumah-rumah, pasar-pasar, ladang-ladang, dan lembaga-lembaga kita dengan mengingat Allah. Maka, dan hanya maka, damai akan menyelimuti negeri ini, persatuan akan tak tergoyahkan,



Tidak ada komentar:
Posting Komentar