Penulis: Sofyan RI
Senin, 7 September 2026
PANTE BIDARI, ACEH TIMUR_Harian-RI.com
Kemarahan warga Gampong Seuneubok Saboh, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, meledak pasca peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hari Senin, 7 September 2026. Seluruh tikar milik masjid maupun meunasah desa lenyap tanpa kabar. Akibatnya, warga dipaksa membawa tikar masing-masing dari rumah untuk pelaksanaan kegiatan keagamaan.
Kepala Desa Seuneubok Saboh diketahui memegang kendali pemerintahan desa sejak tahun 2013 hingga kini, lebih dari satu dekade. Di bawah kepemimpinannya, desa menerima sumbangan kompensasi CSR dari perusahaan pelaksana proyek irigasi D.I. Jambo Aye Sayap Kanan. Dana puluhan juta rupiah masuk ke desa, namun warga sama sekali tak melihat wujud pembangunannya.
Dana CSR yang tercatat belum dipertanggungjawabkan:
- _PT Bohana Jaya Nusantara: Rp 10.000.000 — diterima Mantan Kades M. Nasir IB., beserta Mantan Ketua Pemuda dan seluruh jajaran perangkat desa. Tak ada laporan penggunaan kepada rakyat._
- _PT Hanan: Rp 10.000.000 — diserahkan pihak perusahaan yang dikenal sebagai Bang Patria. Hingga kini tertutup rapat, tak diketahui kemana perginya._
- _PT Faiza Mandiri Utama: Rp 10.000.000 — namun Ketua Pemuda hanya menerima Rp 5.000.000. Sisa Rp 5.000.000 diduga ditahan Manajer Lapangan yang dikenal sebagai Bang Jery._
Bukan itu saja, desa juga menerima pendapatan lain termasuk proyek BWSS pasca lanjutan Tahap II. Namun di saat yang sama, aset desa paling mendasar pun hilang tak berbekas.
"Pak Imam Gampong Tgk Abdul Manaf mengumumkan tegas di hadapan warga: wajib bawa tikar masing-masing, karena di meunasah tak ada satu pun tikar!" ungkap warga dengan nada gemetar menahan amarah.
Warga bertanya tajam:
Selama belasan tahun memimpin, dana CSR saja sudah terkumpul Rp 30.000.000 lebih, belum pendapatan lain. Jika sekadar tikar untuk ibadah saja tak tersedia, lalu uang desa habis untuk apa sebenarnya? Siapa yang menikmatinya?
"Sungguh memalukan. Desa kaya raya, meunasah kosong melompong. Dana rakyat dikantongi kalangan penguasa desa? Kami menuntut audit menyeluruh & laporan terbuka segera!" tegas warga sekaligus pemuda peneliti kebijakan desa tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum satu pun perangkat desa berani memberikan penjelasan resmi terkait hilangnya aset maupun pertanggungjawaban keuangan. Semua berdiam diri serba tertutup. Tim Bidikterkini terus memantau perkembangan dan menunggu jawaban resmi pihak berwenang. Sofyan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar