BANDA ACEH _Harian-RI.com
Bumoe Raya Aceh Pusaka menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan Muzakarah Internasional Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Banda Aceh. Organisasi tersebut mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk menjaga ketertiban sekaligus menjadikan kegiatan tersebut sebagai momentum memperlihatkan nilai-nilai tasawuf melalui akhlak dan perilaku sehari-hari.
Ketua Umum Bumoe Raya Aceh Pusaka, Jamal Luddin alias Tgk Rohid, mengatakan bahwa kegiatan keagamaan seperti muzakarah bukan hanya menjadi tempat untuk mendengarkan tausiyah dan berdiskusi, tetapi juga harus menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, kesabaran, kerendahan hati dan sikap saling menghormati.
“Kami mengimbau seluruh jamaah yang hadir agar menjaga ketertiban selama acara berlangsung. Mari kita tunjukkan bahwa ilmu tauhid dan tasawuf yang kita pelajari dapat tercermin dalam akhlak dan perilaku kita,” ujar Jamal Luddin alias Tgk Rohid.
Menurutnya, tema “Ajaran Sufi Untuk Persatuan dan Perdamaian Umat” memiliki pesan yang sangat penting. Semangat tasawuf, kata dia, hendaknya tidak berhenti pada pembahasan di dalam forum, tetapi diwujudkan melalui sikap nyata dalam kehidupan.
“Tasawuf bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan, tetapi juga bagaimana kita bersikap. Mari hadir dengan niat mencari ilmu, menghormati ulama dan sesama jamaah, menjaga lisan, menghindari keributan serta mengedepankan persaudaraan,” katanya.
Ia juga meminta seluruh peserta untuk menjaga keamanan dan kenyamanan selama rangkaian kegiatan, termasuk mematuhi arahan panitia, menjaga kebersihan lokasi, tidak mengganggu jalannya acara serta memberikan ruang yang nyaman bagi seluruh jamaah.
Jadikan Muzakarah Momentum Memperkuat Ukhuwah
Bumoe Raya Aceh Pusaka berharap Muzakarah Internasional Tauhid Sufi ke-II dapat menjadi momentum mempererat hubungan antara ulama, tokoh masyarakat, jamaah dan peserta dari berbagai daerah maupun negara.
Jamal Luddin menegaskan bahwa perbedaan latar belakang dan pemikiran tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling bermusuhan.
“Kita berkumpul untuk mencari ilmu dan memperkuat ukhuwah. Jangan sampai perbedaan membuat kita saling menjatuhkan. Justru melalui muzakarah ini kita belajar untuk saling menghormati dan membangun persatuan,” tegasnya.
Ia kembali mengingatkan seluruh jamaah agar membawa pulang bukan hanya pengetahuan dari kegiatan tersebut, tetapi juga hikmah dan akhlak.
“Datang dengan niat mencari ilmu, ikuti acara dengan tertib dan khusyuk, kemudian pulang membawa hikmah. Tunjukkan tasawuf sebagaimana yang kita pelajari melalui kesabaran, kerendahan hati, kasih sayang, persaudaraan dan perdamaian,” ungkap Jamal Luddin.
Jaga Nama Baik Aceh
Lebih lanjut, Jamal Luddin mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga nama baik Aceh sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi keislaman dan pendidikan ulama.
Menurutnya, sikap tertib dan berakhlak selama kegiatan berlangsung juga merupakan bagian dari penghormatan kepada para ulama, tamu dan seluruh peserta yang datang mengikuti muzakarah.
“Mari kita jaga nama baik Aceh, jaga kehormatan para ulama dan jaga suasana muzakarah. Kita ingin kegiatan ini meninggalkan kesan yang baik, bahwa Aceh mampu menjadi tempat berkumpulnya umat untuk ilmu, tauhid, tasawuf, ukhuwah dan perdamaian,” pungkasnya.
Bumoe Raya Aceh Pusaka — Mendukung Acara Muzakarah Internasional.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar