Banda Aceh_Harian-RI.com
Menghadapi Muzakarah Internasional Tauhid Sufi ke-II yang dijadwalkan berlangsung pada 9-11 Oktober 2026, Banda Aceh bersiap kembali menjadi tuan rumah pertemuan ulama berskala internasional. Kegiatan ini mengusung tema "Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Ummat". Panitia memusatkan pembukaan, tabligh akbar, zikir, dan doa untuk negeri di Lapangan Blang Padang. Muzakarah khusus para ulama berlangsung di Balai Meuseuraya Aceh pada 9-11 Oktober. Pemerintah Kota Banda Aceh memperkirakan peserta mencapai 20.000 hingga 30.000 orang.
Jumlah itu mengesankan, tetapi yang lebih penting adalah apa yang diingatkannya kepada kita. Aceh pernah menjadi tempat berjumpa ulama dari berbagai penjuru dunia, dan peran itu layak dihidupkan kembali.
Warisan yang Tidak Boleh Berhenti sebagai Kenangan
Julukan Serambi Mekkah lahir dari sejarah yang panjang. Aceh dikenal sebagai simpul pertemuan ulama, pedagang, dan penuntut ilmu. Dari tanah ini muncul tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry, dan Abdurrauf as-Singkili, yang pemikirannya ikut membentuk wajah Islam di Nusantara. Tauhid, tasawuf, fikih, dan sastra tumbuh berdampingan dalam tradisi itu.
Namun warisan yang hanya dikenang akan cepat menjadi nostalgia. Sebuah gelar baru bermakna bila ada ruang yang sungguh mempertemukan orang dan gagasan. Muzakarah ini bisa menjadi ruang tersebut. Menurut pemberitaan, forum ini diharapkan mempertemukan peserta dari Aceh, berbagai daerah di Indonesia, dan sejumlah negara. Dalam majelis seperti itu, ulama saling mendengar, bertukar pandangan, dan menguji pemahaman dengan adab.
Tradisi yang Dirawat, Bukan Peristiwa Sekali Jadi
Muzakarah ini bukan acara yang tiba-tiba muncul. Muzakarah Ulama Tauhid Sufi Internasional pernah digelar di Banda Aceh pada 2018 dan diikuti ratusan ulama dari dalam maupun luar negeri. Edisi kedua ini menunjukkan adanya kesinambungan, dan kesinambungan itulah yang membedakan tradisi dari sekadar seremoni. Tradisi keilmuan hanya hidup bila dirawat berkala.
Kegiatan ini digagas oleh Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) dan mendapat sambutan dari berbagai pihak. Ketua YPPI menilainya sebagai momentum penting untuk memperkuat persatuan, perdamaian, dan ukhuwah umat Islam, sementara Ketua DPRD Provinsi Gorontalo menyampaikan ucapan selamat setelah menerima kunjungan panitia. Dukungan dari luar Aceh menunjukkan bahwa pesan muzakarah ini menjangkau lebih jauh dari batas daerah.
Tasawuf dan Kebutuhan Zaman
Tema persatuan dan perdamaian terasa sangat relevan. Masyarakat mudah terbelah oleh perbedaan pandangan, pilihan, dan latar belakang. Media sosial mempercepat keterbelahan itu, sebab perbedaan sering dipertajam menjadi permusuhan sebelum sempat dipahami.
Di sinilah tasawuf menawarkan sesuatu yang kita butuhkan. Penekanannya pada penyucian hati, adab, dan kelembutan mengajarkan bahwa perbedaan tidak harus dimusnahkan, tetapi dikelola dengan akhlak. Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, mengingatkan bahwa tantangan utama adalah memastikan perbedaan tidak berkembang menjadi pertentangan. Pesan itu sejalan dengan semangat muzakarah ini.
Aceh sendiri punya modal yang tidak dimiliki semua daerah, yaitu pengalaman membangun perdamaian. Pengalaman itu perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pertemuan ulama dunia di Banda Aceh bisa menjadi tempat pengalaman tersebut dibagikan sekaligus diperkaya oleh pengalaman dari negeri lain.
Agar Muzakarah Tidak Berhenti di Panggung
Acara dengan puluhan ribu peserta mudah diingat karena kemeriahannya. Namun ukuran keberhasilannya ada pada dampak sesudahnya. Ada tiga hal yang patut dijaga.
Pertama, hasil pembahasan para ulama perlu didokumentasikan dan disebarluaskan dalam bentuk yang mudah diakses, baik berupa rekomendasi, makalah, maupun rekaman diskusi. Kedua, akademisi, santri dayah, dan generasi muda perlu dilibatkan agar forum ini tidak menjadi urusan kalangan tertentu saja. Ketiga, pesan persatuan harus tampak dalam sikap panitia dan peserta sendiri: terbuka terhadap perbedaan dan santun kepada siapa pun.
Penutup
Ketika ulama dunia bertemu di Banda Aceh, yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran sebuah acara. Aceh sedang menegaskan kembali perannya sebagai ruang perjumpaan ilmu, tempat orang datang untuk belajar, berdialog, dan pulang membawa kedamaian. Tugas kita sesudahnya adalah menjaga agar semangat itu tetap hidup di majelis taklim, dayah, kampus, dan percakapan sehari-hari. *Penulis : Khalil Dasli, S.E., M.Si. Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Yayasan Ampera*



Tidak ada komentar:
Posting Komentar