Ditulis oleh: Zanjabila
Bireuen_Harian-RI.com
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh Kabupaten Bireuen menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi selama dua hari, 18-19 Mei 2026. Kegiatan ini ditujukan kepada pustakawan, guru, dan pegiat literasi di lingkungan Kabupaten Bireuen guna menghadapi tantangan di era digital yang terus berkembang. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Gedung Layanan Perpustakaan lantai III, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bireuen.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bireuen, Bapak Irfan, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menekankan urgensi peningkatan literasi. “Bimtek ini dilaksanakan supaya pelan-pelan literasi kita meningkat, jangan sampai kita menuntut kreativitas dari anak-anak dan masyarakat, tetapi literasi kita sendiri tidak meningkat”, tegasnya.
Memasuki sesi pertama, Zikrayanti, M.LIS, yang memaparkan pentingnya literasi informasi dan alur sederhana dalam mencari informasi. Beliau mengingatkan bahwa “sumber informasi terbagi menjadi tiga, yaitu sumber primer, sekunder, dan tersier”. Ia juga menegaskan bahwa “pustakawan, guru, dan pegiat literasi harus melakukan verifikasi ketat melalui crosscheck antarsumber, pengecekan keaslian, hingga membaca secara lateral untuk menginvestigasi latar belakang penulis,” guna menangkal hoax yang dapat berdampak fatal.
Dalam kesempatan yang sama, Zikrayanti menekankan bahwa bimbingan teknis ini sangat penting di era digital, karena perputaran informasi terjadi dalam volume yang sangat besar dan cepat. “Dalam literasi informasi, hal yang paling penting adalah mengasah keterampilan agar kita lebih bijak dalam mengakses, mengolah, dan memilah informasi. Melalui Bimtek ini, kita berharap agar para peserta dapat membuka mindset hari ini, memahami konsep literasi digital secara mendalam, serta menjadi lebih selektif sebelum menyebarkan informasi ke publik," ujar Zikrayanti.
Selain itu, Zikrayanti menegaskan bahwa peran manusia tidak akan tergantikan oleh teknologi jika pustakawan dan masyarakat mampu mengambil peran strategisnya di era banjir informasi ini. "Pustakawan dan masyarakat berperan penting sebagai Agent of Change (agen perubahan) sekaligus kurator informasi. Kita bertugas memilah mana informasi yang layak dan sahih untuk dikonsumsi masyarakat luas, sehingga kita tidak rentan menjadi korban ataupun agen penyebar berita bohong," tegasnya.
Selanjutnya, sesi kedua disampaikan oleh Aditya Aziz Fikri, S.Tr.Kom., M.Kom., dan sesi ketiga ditutup oleh Siti Alpiyah, S.IP. Keduanya turut berkontribusi sebagai narasumber dalam memperkaya wawasan dan keterampilan para peserta. Setiap sesi dilengkapi tanya jawab interaktif yang berlangsung hidup dan penuh semangat.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bireuen berharap seluruh peserta dapat menjadi penggerak perubahan yang mampu menghidupkan kembali minat baca masyarakat. Pengelolaan perpustakaan yang adaptif, kreatif, dan berbasis inovasi modern diyakini menjadi kunci untuk menjawab tantangan literasi di era digital saat ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar