Prodi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry bersama Lembaga Perempuan Peduli Leuser Fasilitasi Penguatan Kapasitas Perempuan Tuha Peut Gampong di Kawasan Ekosistem Leuser
  • Jelajahi

    Best Viral Premium Blogger Templates

    Kode IT


    terkini

    Prodi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry bersama Lembaga Perempuan Peduli Leuser Fasilitasi Penguatan Kapasitas Perempuan Tuha Peut Gampong di Kawasan Ekosistem Leuser

    Dimas ( Redaksi )
    15 Juni 2026, 6/15/2026 09:09:00 AM WIB Last Updated 2026-06-15T02:09:23Z



    Banda Aceh_Harian-RI.com

    Lebih dari dua puluh perempuan anggota tuha peut gampong dari 13 kabupaten/kota di Aceh berkumpul di Meeting Room Gedung Language Development Center UIN Ar-Raniry, Jumat, 12 Juni 2026. Mereka datang dari ujung-ujung wilayah Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) — dari Aceh Tamiang di timur hingga Aceh Barat di pesisir barat, dari Gayo Lues dan Aceh Tengah di pegunungan tengah hingga Subulussalam dan Aceh Singkil di selatan — menjawab undangan diskusi dan transfer pengetahuan yang diselenggarakan oleh lembaga Perempuan Peduli Leuser bekerja sama dengan Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.


    Kehadiran para perempuan legislatif gampong ini bukan sekadar pertemuan biasa. Mereka adalah anggota tuha peut — lembaga permusyawaratan desa yang di Aceh memiliki kedudukan strategis setara dengan keuchik, berwenang dalam legislasi reusam (peraturan kampung), pengawasan anggaran, penyerapan aspirasi warga, hingga menjalankan fungsi hakim perdamaian adat. Selama ini, keterlibatan perempuan dalam lembaga ini kerap dipandang sebatas formalitas. 



    Akademisi Bertemu Legislator Akar Rumput


    Program Studi PMI memfasilitasi kegiatan ini dengan menghadirkan dua pemateri dari kalangan akademisinya sendiri, mempertemukan dunia kampus dengan realitas gampong secara langsung.


    Pemateri pertama, Dr. Rasyidah, Ketua Program Studi PMI sekaligus Presidium Balisyura, membuka sesi dengan menyentuh fondasi paling mendasar dari peran tuha peut perempuan: semangat dakwah. Dalam paparannya, Dr. Rasyidah mengajak peserta untuk melihat posisi mereka sebagai legislator gampong bukan semata dalam kerangka administratif, melainkan sebagai panggilan dakwah sosial — sebuah amanah untuk menegakkan keadilan, menjaga ekosistem masyarakat, dan menyuarakan kepentingan warga yang paling rentan. Selain itu, ia juga membekali peserta dengan strategi komunikasi yang efektif agar perempuan tuha peut mampu tampil percaya diri, berpengaruh, dan didengar dalam setiap forum pengambilan keputusan di tingkat gampong.


    Sesi dilanjutkan oleh pemateri kedua, Ismiatul Ramadhian Nur, M.Si., dosen tetap Prodi PMI UIN Ar-Raniry, yang mengupas isu lingkungan dalam konteks yang sangat dekat dengan keseharian para peserta. Materi yang disampaikan menyoroti urgensi pelestarian Kawasan Ekosistem Leuser — hamparan hutan hujan tropis seluas 2,6 juta hektare yang menjadi benteng terakhir satwa kunci yang terancam punah, sekaligus sumber air bersih dan pengendali bencana bagi jutaan warga Aceh dan Sumatra Utara. Dalam perspektif hukum adat, perempuan tuha peut memiliki kewenangan nyata untuk menangani perkara pembakaran hutan skala kecil dan pencemaran lingkungan ringan di tingkat gampong — dua dari 18 perkara sengketa adat yang diamanatkan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 untuk diselesaikan melalui peradilan adat sebelum masuk ke ranah hukum negara. Ismiatul mendorong peserta untuk tidak hanya memahami kewenangan ini secara normatif, tetapi benar-benar menggunakannya sebagai instrumen perlindungan lingkungan yang konkret di wilayah masing-masing.



    Forum yang Hidup: Peserta Terlibat Aktif


    Suasana diskusi berlangsung hangat dan dinamis. Para peserta yang datang dari berbagai latar belakang wilayah dan pengalaman lapangan terlibat aktif — bertanya, berbagi cerita dari gampong masing-masing, dan merefleksikan tantangan yang mereka hadapi sebagai perempuan dalam lembaga legislatif desa. Banyak peserta mengungkapkan bahwa selama ini mereka belum sepenuhnya memahami seberapa luas kewenangan yang sesungguhnya mereka miliki. Forum ini menjadi ruang untuk menyadari potensi tersebut sekaligus membangun keberanian untuk menggunakannya.


    Antusiasme peserta yang datang dari 13 kabupaten/kota — Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Singkil, Subulussalam, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Barat, dan Aceh Utara — mencerminkan betapa besarnya kebutuhan akan ruang penguatan semacam ini. Mereka tidak hanya hadir sebagai perwakilan daerah, tetapi sebagai suara dari gampong-gampong yang hidup berdampingan langsung dengan hutan dan sungai Leuser, yang merasakan sendiri konsekuensi dari setiap kerusakan yang terjadi.



    Mahasiswa PMI: Belajar dari Lapangan Langsung


    Kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa Prodi PMI angkatan 2024, khususnya mereka yang mengambil konsentrasi Advokasi dan Analisis Kebijakan Publik. Para mahasiswa turut hadir dan terlibat aktif dalam mensukseskan jalannya forum — bukan semata sebagai pendukung teknis, melainkan sebagai pelajar yang berkesempatan bertatap muka langsung dengan para pelaku kebijakan di tingkat desa. Bagi mereka, forum ini adalah ruang belajar yang tidak tersedia di dalam kelas: memahami cara kerja legislasi gampong, mendengar dilema nyata yang dihadapi perempuan legislatif desa, dan menyaksikan bagaimana pengetahuan akademis bertemu dengan kebutuhan masyarakat di akar rumput.



    Bagian dari Perjalanan yang Lebih Panjang


    Kunjungan ke UIN Ar-Raniry ini merupakan bagian dari rangkaian program Penguatan Kapasitas Perempuan Tuha Peut Gampong di Kawasan Ekosistem Leuser Provinsi Aceh yang diselenggarakan oleh Perempuan Peduli Leuser selama tiga hari, 11–13 Juni 2026, di Banda Aceh. Program ini dirancang untuk mendorong perempuan tuha peut menjadi figur legislatif desa yang fungsional, mandiri, dan berwibawa — tidak hanya dalam menjaga keharmonisan tatanan sosial gampong, tetapi juga dalam memastikan kelestarian alam Leuser tetap terjaga untuk generasi yang akan datang.


    Kolaborasi antara Prodi PMI UIN Ar-Raniry dan Perempuan Peduli Leuser dalam forum ini menjadi contoh nyata bagaimana institusi akademis dapat berperan langsung dalam pemberdayaan masyarakat — menjembatani pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan nyata di lapangan, dan menempatkan perempuan sebagai agen perubahan yang sesungguhnya di gampong-gampong mereka.

    Komentar
    Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
    • Prodi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-Raniry bersama Lembaga Perempuan Peduli Leuser Fasilitasi Penguatan Kapasitas Perempuan Tuha Peut Gampong di Kawasan Ekosistem Leuser

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    Topik Populer